Showing posts with label islam. Show all posts
Showing posts with label islam. Show all posts

Saturday, September 28, 2024

BAB BANYAK BICARA ( TANPA ILMU )

Kita jangan meremehkan urusan omongan. Kalau sekarang, lisan diganti dengan tulisan. Di banyak aplikasi atau momentum kita tidak lagi berbicara dengan lisan, tapi kita berbicara dengan tulisan. Maka sama hukumnya antara tulisan dengan lisan. Terkadang ada orang yang suka banyak bicara. Bagaimana posisi banyak bicara ini?

Sebelum kita membacakan hadits yang disebutkan oleh Imam Bukhari, kita baca hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا

“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai, yang paling dekat duduknya sama aku pada hari kiamat, yaitu orang yang paling baik prilakunya/karakternya/budipekertinya.” (HR. Tirmidzi)

Kita tahu surga itu ada 100 derajat. Antara satu derajat dengan derajat selanjutnya seperti antara langit dan bumi. Kita di dunia melihat bagaimana adanya perbedaan derajat di antara manusia. Ada yang pejabat publik, ada yang jadi bupati, ada yang naik lagi menjadi gubernur, ada yang naik lagi menjadi presiden. Dari sisi harta kita melihat juga, ada orang yang lahir di bidan, lalu dibawa ke rumah yang sederhana sekali yang mungkin ubinnya belum terpasang, tidak ada AC, kasurnya sudah lama, pakaian yang dipakai pun bekas dari kakaknya. Tapi ada anak yang lahir langsung disambut oleh dokter-dokter spesialis, diletakkan di ranjang yang mahal, dibungkus dengan selimut yang lembut, diletakkan di ruangan AC dengan pakaian baru yang bermerek. Adapun di akhirat maka lebih banyak lagi tingkatan dan kemuliaannya.

Kita tidak pernah melihat Nabi, tapi engkau bisa duduk di dekat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Yaitu dengan cara menjadi orang yang paling baik prilakunya, paling bagus karakternya, paling mulia budipekertinya. Bukan yang paling cantik, bukan yang paling tampan, bukan yang paling kaya, bukan yang paling gagah, bukan yang paling banyak followernya, bukan yang paling tinggi jabatannya.

Kemudian kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ وَالْمُتَفَيْهِقُونَ

“Sesungguhnya orang yang paling aku benci, yang paling jauh duduknya dariku pada hari kiamat, orang yang banyak ngomong, orang yang berlebih-lebihan dalam tata cara bicaranya (untuk menarik orang lain), orang yang sombong.” (HR. Tirmidzi)

Maka kita melihat kita banyak bicara atau tidak? Apa yang kita bicarakan?

Jadi banyak bicara itu menyebabkan hati menjadi keras. Abdullah bin Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan sebuah hadits yang memang secara sanadnya mungkin dhaif, tapi maknanya shahih. Disebutkan di dalam hadits itu:

لا تكثرِ الكلامَ بغير ذكرِ اللهِ فإن كثرةَ الكلامِ بغير ذكر اللهِ قسوةٌ للقلبِ

“Jangan banyak-banyak bicara selain dzikrullah. Sesungguhnya banyak bicara selain mengingat Allah itu menyebabkan hati menjadi keras.”

Kalau banyak dzikir tidak mengapa. Bahkan Allah mengatakan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرً

“Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah dengna dzikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab[33]: 41)

Kalau dzikir kita diperintahkan untuk memperbanyak, adapun selalun dzikir jangan banyak-banyak. Antum lihat orang yang banyak bicara itu keras (sulit diberi nasihat).

Sumber : https://www.radiorodja.com/52938-bab-banyak-bicara/

Tags : islam,ceramah islam terbaru,kajian islam,islam modern,ceramah islam,diam itu emas dalam islam,bahaya banyak bicara,banyak bicara,suka banyak bicara,lebih baik diam daripada banyak bicara,ceramah agama islam,jangan banyak bicara,video kajian islam,banyak omong adalah dosa,ceramah islam viral terbaru,dakwah islam,tanya jawab keislaman,cara mengusir setan di dalam tubuh,pemuda islam,manhaj salaf,jangan banyak berbicara,tausiyah islam,bicara murabbi

Thursday, September 26, 2024

Terlalu Berlebihan dalam Memberikan Nasihat kepada Anak


Kita masih membahas tentang hal-hal yang bisa merusak kepribadian remaja atau pendekatan yang salah dalam mendidik mereka. Beberapa poin telah kita bahas sebelumnya, dan yang terakhir adalah tentang sikap orang tua yang suka membandingkan anaknya dengan anak lain. Hal ini sudah dijelaskan secara mendetail pada kesempatan yang lalu.

Poin berikutnya yang perlu diperhatikan adalah sikap yang terlalu berlebihan dalam memberikan nasihat. Menasihati anak itu penting, tetapi jangan terlalu berlebihan, karena nasihat akan kehilangan kekuatannya jika disampaikan terlalu sering atau berlebihan. Bahkan, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan jadwal dalam menyampaikan nasihat, artinya tidak setiap hari nasihat disampaikan. Beliau membuat jadwal dalam memberi nasihat kepada para sahabat.

Demikian juga, orang yang mendengar nasihat perlu persiapan untuk bisa menerima dan memahami nasihat yang disampaikan. Jika nasihat diberikan setiap hari, mereka mungkin bingung mana yang harus diprioritaskan atau bagaimana memahami semua nasihat yang didengar. Kemampuan untuk mencerna apa yang didengar itu berbeda-beda antara satu orang dengan yang lain. Oleh karena itu, berilah waktu kepada anak atau siapapun yang mendengar nasihat kita untuk bisa memahami dan merenungkan nasihat tersebut. Memahami nasihat saja memerlukan waktu, apalagi melaksanakannya.

Kadang-kadang, karena terlalu sering atau berlebihan dalam memberikan nasihat, sementara kemampuan anak untuk memahami dan melaksanakan nasihat tersebut terbatas, orang tua mungkin menyimpulkan bahwa anaknya menolak nasihat. Hal ini justru menjadi beban bagi anak, dan beban itu semakin berat ketika dia dituntut oleh orang tua, “Saya sudah menasihatimu berulang kali.” Karena nasihat terlalu sering diberikan, anak mungkin tidak mampu memahami atau melaksanakan apa yang didengarnya. Akhirnya, orang tua merasa kecewa karena nasihatnya seolah diabaikan, padahal sebenarnya bukan demikian.

Ketika mendengar nasihat, kita perlu mencerna dan merenungkan nasihat tersebut terlebih dahulu. Kita harus memikirkan bagaimana cara melaksanakan nasihat itu. Jarang sekali ada orang yang langsung memahami dan melaksanakan nasihat yang baru didengarnya. Tidak semua orang mampu memahami nasihat dengan cepat dan langsung melaksanakannya. Oleh karena itu, untuk menerima nasihat saja diperlukan kesiapan, baik mental, jiwa, maupun hati. Maka beri waktu mereka agar menerima nasihat.

Allah telah menyatakan bahwa nasihat yang disampaikan-Nya kepada hamba-hamba-Nya adalah sesuatu yang berat. Allah berfirman:

إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا

“Sesungguhnya Kami akan menurunkan perkataan yang berat kepadamu (Muhammad)” (QS. Al-Muzzammil [73]: 5).

Nasihat, yang dalam hal ini berupa wahyu yang disampaikan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, memang berat untuk diterima. Namun, meskipun berat untuk diterima, jika dilaksanakan, sebenarnya nasihat itu tidaklah sulit, karena agama ini mudah. Yang sulit adalah persiapan jiwa dan hati untuk memahami dan menerima nasihat tersebut dengan benar. Padahal, jika nasihat itu diikuti, sebenarnya hal itu akan menjadi lebih mudah.

Kadang-kadang, ketika kita memberi nasihat, kita berpikir, “Apa susahnya melaksanakan apa yang saya katakan?” Misalnya, kita menasihati seorang perokok dengan mengatakan bahwa merokok itu berbahaya. Dalam pandangan kita yang memberi nasihat, tampaknya mudah untuk berhenti merokok—tinggal buang rokoknya, selesai. Namun, masalahnya bukan terletak pada pelaksanaannya. Masalahnya adalah bagaimana orang yang dinasihati bisa menerima nasihat tersebut, memahami bahwa rokok benar-benar berbahaya, dan kemudian bersedia untuk mengikuti nasihat itu.

Meskipun kita yakin bahwa setelah seseorang menerima dan memahami nasihat, melaksanakannya akan terasa mudah, bagian terberat adalah membuat hati dan pikirannya tunduk menerima nasihat tersebut. Banyak orang yang akhirnya berhenti merokok dengan mudah, tetapi proses untuk menerima nasihat itu dan meyakinkan diri sendiri bahwa berhenti merokok adalah langkah yang benar bukanlah perkara mudah.

Nasihat itu memang berat untuk diterima dan dipahami dengan benar. Kebanyakan dari kita mendengar nasihat tetapi tidak memahaminya dengan benar, sehingga terasa berat untuk diterima. Hati kita sering kali masih terganjal untuk menerima nasihat tersebut. Padahal, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ

“Sesungguhnya agama itu mudah.”

Lihat: Islam Adalah Agama Yang Mudah – Prinsip Dasar Islam (Ustadz Fachrudin Nu’man, Lc.)

Agama ini memang mudah, dan tidak ada yang berat dalam syariat yang diturunkan Allah, karena syariat ini sesuai dengan kemampuan manusia.

Sumber : https://www.radiorodja.com/54403-terlalu-berlebihan-dalam-memberikan-nasihat-kepada-anak/

Tags : mengatasi kecemasan berlebihan dalam islam,kajian islam,mengatasi kecemasan dalam islam,islam,nasihat islam,memaklumi kesalahan secara berlebihan,mengatasi kecemasan berlebihan,jangan pernah kasih hp kepada anak,memberikan gadget pada anak,kasih sayang orang tua kepada anak,muhammad nuzul dzikri serahkan kepada allah,terlalu sering membandingkan,memberi nasihat dengan cara berdebat,berfikir berlebihan,terlalu memanjakan anak,ceramah islam,berlebihan


 

Saturday, September 21, 2024

KAJIAN ISLAM ILMIAH TENTANG SABAR


Dari sahabat Suhaib Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh istimewa perkara orang yang beriman, seluruh urusannya baik. Dan hal ini tidak dimiliki kecuali oleh orang yang beriman. Jika ia mendapatkan kebaikan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia ditimpa musibah, ia bersabar, dan itu pun baik baginya” (HR. Muslim).

Dari sahabat Abu Malik Al-Asy’ari Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda:

الطُّهُورُ شَطْرُ الإِيْمَانِ، وَالحَمْدُ للهِ تَمْلأُ المِيْزَانَ، وَسُبْحَانَ اللهِ والحَمْدُ للهِ تَمْلآنِ – أَو تَمْلأُ – مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ، وَالصَّلاةُ نُورٌ، والصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ، وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ، وَالقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ، كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَبَائِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَو مُوْبِقُهَا

“Bersuci adalah separuh dari iman. Ucapan Alhamdulillah memenuhi timbangan kebaikan. Ucapan Subhanallah dan Alhamdulillah memenuhi—atau hampir memenuhi—ruang antara langit dan bumi. Shalat adalah cahaya, sedekah adalah bukti, kesabaran adalah sinar yang terang, dan Al-Qur’an adalah hujjah (penolong) bagimu atau pemberatmu. Setiap manusia berusaha, ada yang membebaskan dirinya atau membinasakannya.” (HR. Muslim)

Juga dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasannya sekelompok manusia dari kalangan Anshar meminta kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan mereka, namun mereka terus meminta hingga habis apa yang beliau miliki. Setelah itu, beliau bersabda:

 مَا يَكُونُ عِنْدِي مِنْ خَيْرٍ فَلَنْ أَدَّخِرَهُ عَنْكُمْ وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنْ الصَّبْرِ

“Apa yang aku miliki dari kebaikan, tidak akan aku sembunyikan dari kalian. Siapa yang menjaga dirinya, Allah akan menjaganya. Siapa yang merasa cukup, Allah akan mencukupkannya. Siapa yang bersabar, Allah akan memudahkan kesabaran untuknya. Tidaklah seseorang diberikan sesuatu yang lebih baik dan lebih luas dari kesabaran” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sesungguhnya kesabaran dalam segala bentuknya merupakan salah satu tingkatan dan kedudukan yang tinggi dalam agama. Dengan kesabaran, agama dapat tegak, sebagaimana perkataan sahabat Ali Radhiyallahu ‘Anhu: “Sabar dalam keimanan seperti kedudukan kepala terhadap anggota tubuh. Tidak ada keimanan bagi orang yang tidak memiliki kesabaran.”

Banyak ayat-ayat serta bukti-bukti dalam Al-Qur’an dan hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang menjelaskan kedudukan sabar yang sangat tinggi, juga dampak dan pengaruh baiknya, serta manfaat luas yang akan dirasakan oleh orang yang bersabar, baik di dunia maupun di akhirat. Bahkan, Imam Ahmad Rahimahullah berkata: “Sungguh, kesabaran disebutkan lebih dari 90 kali di dalam Al-Qur’an.”

Banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an yang memotivasi dan menganjurkan untuk bersabar, serta menjelaskan kedudukan kesabaran yang sangat tinggi dalam agama Allah ‘Azza wa Jalla. Sebagian ayat memerintahkan untuk bersabar, sebagian lagi menyebutkan ancaman bagi yang tidak bersabar, sebagian lagi menjelaskan dampak dan manfaat baik serta buah yang akan diperoleh oleh orang-orang yang bersabar, baik di dunia maupun di akhirat. Bahkan Allah ‘Azza wa Jalla juga mengabarkan bahwa Dia mencintai orang-orang yang bersabar. Allah Ta’ala berfirman:

…وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

“Dan Allah mencintai orang-orang yang bersabar.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 146)

Dan bahwasannya Allah bersama dengan mereka, sebagaimana firman Allah:

…إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Sesungguhnya Allah bersama dengan orang-orang yang bersabar.” (QS. Al-Baqarah[2]: 153)

Selain itu, Allah juga memberi kabar gembira bagi orang-orang yang bersabar:

 وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ‎﴿١٥٥﴾‏ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ‎﴿١٥٦﴾‏ أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ ‎﴿١٥٧﴾‏ 

“Dan berilah kabar gembira bagi orang-orang yang bersabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun (Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kami kembali kepadaNya.)’ Mereka itulah yang mendapatkan shalawat dari Tuhan mereka, juga rahmat. Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah [2]: 155-157)

Allah juga mengabarkan bahwa orang-orang yang bersabar akan sukses di dunia dan akhirat. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu, serta bertahanlah, dan bertakwalah kepada Allah agar kalian beruntung.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 200)

Kesabaran juga merupakan hal yang baik bagi mereka yang bersabar. Allah Ta’ala berfirman:

… وَلَئِنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِلصَّابِرِينَ

“Jika kalian bersabar, sesungguhnya itu baik bagi orang-orang yang bersabar.” (QS. An-Nahl [16]: 126)

Juga ayat-ayat lain yang menjelaskan kedudukan sabar yang sangat tinggi. Kesabaran adalah sebaik-baik pemberian yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada hamba-Nya. Dalam hadits diatas disebutkan, “Tidaklah seseorang diberikan sesuatu yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.”

Kesabaran adalah cahaya yang menerangi orang yang bersabar. Dengan kesabaran, kehidupannya akan menjadi lebih mudah dalam menghadapi kesulitan, dan jalan hidupnya akan menjadi bahagia. Sebagaimana dalam hadits disebutkan: “Dan kesabaran adalah cahaya.”

Orang yang bersabar senantiasa diterangi jalannya, mendapatkan petunjuk, dan selalu berada diatas kebenaran, serta kokoh di atas jalan yang lurus.

Kehidupan dunia adalah kehidupan yang penuh ujian dan tantangan. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang tidak diuji oleh Allah Azza wa Jalla, dan pada akhirnya, semua akan kembali kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

لِيَجْزِيَ الَّذِينَ أَسَاءُوا بِمَا عَمِلُوا وَيَجْزِيَ الَّذِينَ أَحْسَنُوا بِالْحُسْنَى

“Agar Allah membalas orang-orang yang berbuat keburukan dengan apa yang mereka lakukan dan membalas orang-orang yang berbuat baik dengan kebaikan.” (QS. An-Najm [53]: 31)

Allah Ta’ala juga berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian. Dan Kami uji kalian dengan kebaikan dan keburukan sebagai cobaan, dan kepada Kamilah kalian akan dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya [21]: 35)

Ujian di kehidupan dunia ini terkadang datang dalam bentuk kenikmatan dan kelapangan, terkadang berupa musibah dan kesempitan. Ujian juga bisa datang dalam bentuk kesehatan atau penyakit, kekayaan atau kefakiran. Seorang yang beriman akan selalu diuji dengan dua kondisi tersebut, baik dalam kondisi sempit maupun lapang. Namun, orang yang beriman selalu berada dalam kebaikan di setiap ujian, sebagaimana disebutkan dalam hadits:

عجباً للمؤمن! لايقضي الله له شيئاً إلا كان خيراً له

“Sungguh istimewa orang beriman, Allah tidak mentakdirkan untuknya sesuatu kecuali baik baginya.” (HR. Ahmad)

Adapun orang yang tidak bersabar atas musibah dan tidak bersyukur atas nikmat, maka tidak selalu mendapatkan kebaikan dari takdir tersebut. Perhatikan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang mengatakan bahwa “sesuatu kecuali baik baginya.” Perkataan “sesuatu” di sini mencakup semua ujian, baik kesempitan maupun kelapangan.

Seorang mukmin dalam setiap ujiannya selalu berada dalam kebaikan, karena ia dibimbing oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Jika ia dihadapkan pada kesulitan seperti penyakit atau kefakiran, ia bersabar dan mendapatkan pahala orang-orang yang bersabar. Jika dihadapkan pada ujian seperti kelapangan, kemudahan, kesehatan, keselamatan, kekayaan, dan keluasan harta, ia bersyukur dan mendapatkan pahala orang-orang yang bersyukur. Dengan demikian, seorang mukmin selalu berada antara kesabaran dan kesyukuran.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan dalam empat ayat di Al-Qur’an:

…إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang yang bersabar dan bersyukur.” (QS. Luqman[31]: 31)

Allah Ta’ala menegaskan dua kedudukan ini: bersabar ketika tertimpa musibah dan bersyukur ketika mendapatkan nikmat. Ini adalah tanda orang yang benar-benar mengambil manfaat dari ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan orang yang bisa mengambil manfaat dari ayat Allah hanyalah orang yang selalu bersabar dan bersyukur.

Sesungguhnya, kebutuhan seorang Muslim kepada kesabaran dalam semua keadaan dan setiap amalan yang dikerjakannya sangatlah besar. Seorang hamba tidak memiliki kemampuan untuk melakukan suatu amalan atau ketaatan kecuali dengan kesabaran. Tidak ada kemampuan bagi seorang hamba untuk meninggalkan yang diharamkan, berhenti dari yang dilarang, dan menjauh dari perkara-perkara yang dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali dengan sifat sabar ini. Tidak ada kemampuan bagi seorang hamba untuk bersabar atas penyakit, kesulitan, dan musibah kecuali dengan sifat sabar.

Oleh karena itu, para ulama Rahimahumullah mengatakan bahwa kesabaran terbagi menjadi tiga jenis: kesabaran di atas ketaatan kepada Allah, kesabaran dalam meninggalkan maksiat kepada Allah, dan kesabaran atas takdir Allah yang berat. Barang siapa yang tidak memiliki kesabaran, bagaimana ia bisa menjaga shalatnya, disiplin dalam menjalankan puasanya, atau melakukan ketaatan dengan sempurna? Siapa yang tidak memiliki kesabaran, bagaimana ia bisa menjauh dari hal-hal yang diharamkan dan meninggalkan dosa-dosa? Dan bagaimana ia bisa bersabar atas musibah-musibah yang menimpanya? Maka kebutuhan seseorang terhadap kesabaran sangatlah besar.

Sesungguhnya, kesabaran ini adalah sifat mulia dan kekuatan yang memungkinkan seseorang melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan. Dengan izin Allah, kesabaran menahan jiwa ketika seseorang ditimpa penyakit atau musibah, sehingga ia tidak mengucapkan dan melakukan hal-hal yang dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama, sabar adalah menahan diri dari berkeluh kesah, menahan lisan dari mengucapkan kata-kata yang tidak pantas, serta menahan tangan dari tindakan seperti menampar pipi dan merobek baju. Dengan kesabaran, seseorang tetap mampu menjalankan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, menjaga kewajiban-kewajiban, serta melaksanakan perkara-perkara yang disunnahkan dan dianjurkan. Dengan kesabaran pula, seseorang bisa menahan dirinya dari berbuat maksiat, menjauh dari yang haram, dan meninggalkan perkara-perkara yang dilarang dan dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maka, kesabaran adalah menahan diri dari apa yang diharamkan Allah, serta konsisten dalam menjalankan ketaatan kepada-Nya, melaksanakan kewajiban-kewajiban, dan menjaga lisan dari ucapan-ucapan yang tidak pantas. Sebagaimana dikatakan Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala, “Kesabaran adalah separuh keimanan,” karena hakikat iman terdiri dari kesabaran dan kesyukuran. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

…إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang banyak bersabar dan bersyukur.” (QS. Ibrahim [14]: 5)


Sumber : https://www.radiorodja.com/54480-sabar

Thursday, September 19, 2024

HUKUM ULANG TAHUN

Bismillah

Dalam Islam adalah haram. Karena dalam ulang tahun, mengandung unsur menyerupai (tasyabbuh) dengan orang kafir. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengingatkan dengan keras :

https://chat.whatsapp.com/CT8jfDYg3Z18nuiC5adQu7

”Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Abu Dawud, shahih).

Saat ulang tahun diungkapkan/dirayakan dengan doa baarakallah fii umrik (semoga Allah memberkahi umurmu), itu lebih kental nilai mubahnya atau ibadahnya ? Tentu nilai ibadahnya. Karena nuansa islami dan semua muslim paham, bahwa doa adalah ibadah. Sehingga lengkaplah keburukan pada ulang tahun yang diyakini lebih ‘islami’ ini, keburukan tasyabbuh yang dikemas dengan ibadah. Ibarat kata pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Tasyabbuh kena, bid’ah pun kena.

Maka, bungkus itu tidak merubah hakikat. Seperti riba yang disebut bunga. Atau suap yang dibahaskan sedekah. Zina yang disebut suka sama suka. Hukumnya tetap sama, haram.

Silahkan dishare untuk menyebarkan ilmu agama dan kebaikan. Jazakumullahu khairan.

Dijawab oleh : Ustadz Ahmad Anshori Hafizhahullah.

Sumber :  konsultasisyariah.com

Tags : hukum merayakan ulang tahun,hukum ulang tahun,ulang tahun dalam islam,islam,ulang tahun,kajian islam,hukum dalam islam,ceramah agama islam,hukum perayaan ulang tahun dalam islam,hukum merayakan ulang tahun dalam islam,bagaimana hukum merayakan ulang tahun dalam islam,merayakan ulang tahun,milad dalam islam,merayakan ulang tahun dalam islam,ulang tahun dalam islam abdul somad,asal usul ulang tahun & hukum merayakannya dalam islam,selamat ulang tahun