Oleh Syaikh Dr. Ali al-Hudzaifi
Hafizhahullah
Amalan hati, merupakan perkara
besar dan agung. Pahala dan dosanya lebih besar bila dibandingkan dengan amalan
anggota badan, karena gerakan anggota badan hanya mengikuti hati. Oleh karena
itu dikatakan, “Hati adalah penguasa anggota badan dan anggota badan lainnya
adalah pasukannya.”
Diantara amalan hati yang
mendorong melakukan amal shalih dan yang bisa menumbuhkan rasa cinta kepada
hari akhir, yang dapat menjauhkan dari perbuatan buruk dan bisa menimbulkan
sikap zuhud terhadap dunia serta dapat mengekang hawa nafsu adalah khauf (rasa
takut) dan raja’ (berharap) kepada Allâh Azza wa Jalla .
Khauf (rasa takut) kepada Allâh
Azza wa Jalla akan memandu hati kepada semua kebaikan dan menghalanginya dari
segala keburukan, sedangkan raja’ mengantarkannya meraih ridha dan ganjaran
Allâh Azza wa Jalla , meniupkan semangat untuk melakukan amalan besar.
Rasa takut kepada Allâh Azza wa
Jalla merupakan salah satu cabang tauhid yang harus diperuntukkan hanya kepada
Allâh Azza wa Jalla. Allâh Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan manusia agar takut
kepada-Nya dan melarang takut kepada selain-Nya.
Allâh Azza wa Jalla berfirman :
إِنَّمَا
ذَٰلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ
إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
Sesungguhnya mereka itu tidak
lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya
(orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka,
tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman [Ali Imrân/3:175]
Allâh Azza wa Jalla juga
berfirman:
فَلَا
تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي
ثَمَنًا قَلِيلًا
Karena itu janganlah kamu takut
kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar
ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. [al-Mâidah/5:44]
Yang dimaksud dengan rasa takut
adalah: rasa cemas, gundah, dan khawatir terkena adzab Allâh Azza wa Jalla
akibat melakukan perbuatan haram atau meninggalkan kewajiban, juga khawatir
jika Allâh Subhanahu wa Ta’ala tidak menerima amalan shalihnya. Dengan rasa
takut ini, jiwa akan terhalau dari hal-hal yang diharamkan dan bergegas
melakukan kebaikan.
Orang yang memiliki rasa takut
seperti yang disebutkan di atas, dijanjikan oleh Allâh Azza wa Jalla ganjaran
yang besar dalam banyak ayat. Diantaranya firman Allâh Azza wa Jalla :
وَلِمَنْ
خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ
﴿٤٦﴾ فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
﴿٤٧﴾ ذَوَاتَا أَفْنَانٍ
Orang yang takut pada Allâh akan
mendapatkan dua surga. Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Kedua syurga itu mempunyai pohon-pohonan dan buah-buahan [ar-Rahmân/55:46-48]
Allâh Azza wa Jalla mengabarkan
bahwa orang yang takut kepada-Nya, akan diselamatkan dari hal-hal yang tidak
dia sukai, diberi kecukupan dan diberi akhir yang bagus. Kalau kita mempelajari
kehidupan para Ulama salaf, kita dapati rasa takut kepada Allâh Azza wa Jalla
telah mendominasi hati mereka. Ini mendorong mereka untuk terus memperbaiki
amalan dan mengharapkan rahmat Allâh Azza wa Jalla . Oleh karena itu, keadaan
kehidupan mereka selalu baik, akhir kehidupan mereka juga bagus serta amalan
mereka penuh berkah.
Rasa takut yang terpuji adalah
rasa takut yang mendorong kepada amal shalih, menghalangi dari perbuatan haram.
Apabila rasa takut itu telah melebihi batasan itu, maka akan menimbulkan sifat
putus asa dari rahmat Allâh Azza wa Jalla.
Ibnu Rajab al-Hambali
rahimahullah berkata, “Kadar rasa takut yang wajib dimiliki seorang hamba
adalah seukuran rasa takut yang bisa mendorongnya melakukan hal-hal yang fardhu
dan menjauhi yang diharamkan. Apabila lebih dari kadar di atas sehingga bisa
membangkitkan jiwa untuk bersemangat mengerjakan nafilah (amalan sunat) dan
ketaatan, menjauhi yang makrûh, dan tidak berlebihan dalam hal-hal yang mubah,
maka itu semua merupakan keutamaan yang terpuji. Namun apabila rasa takut itu
melebihi hal di atas sehingga bisa menyebabkan sakit, mati atau kecemasan
permanen yang memutus semua jenis usaha, maka rasa takut seperti ini tidak
terpuji.”
Itulah rasa takut yang harus
dimiliki oleh seorang Muslim saat menjalani kehidupannya di dunia ini. Lalu
bagaimana dengan raja’? Adapun raja’ adalah ambisi untuk meraih ganjaran dari
Allâh sebagai balasan dari amal shalih yang telah dilakukannya. Jadi syarat
raja’ adalah melakukan amal shalih, meninggalkan perkara yang diharamkan atau
bertaubat darinya. Adapun meninggalkan kewajiban, menuruti syahwat lalu berharap
kepada Allâh Azza wa Jalla , maka itu bukanlah raja’ namun hanya merasa aman
dari makar Allâh Azza wa Jalla , padahal Allâh Azza wa Jalla berfirman :
أَفَأَمِنُوا
مَكْرَ اللَّهِ ۚ فَلَا
يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا
الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ
Maka apakah mereka merasa aman
dari adzab Allâh (yang tidak terduga-duga)? Tidaklah merasa aman dari makar
Allâh kecuali orang-oranag yang merugi [al- A’raf/7:99]
Allâh Azza wa Jalla menjelaskan
bahwa raja’ itu ada setelah melakukan amal shalih, tanpa amal shalih, raja’
tidak ada. Allâh Azza wa Jalla berfirman :
إِنَّ
الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا
الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا
وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ
Sesungguhnya orang-orang yang
membaca kitab Allâh, mendirikan shalat, dan menginfakkan apa yang Kami berikan
kepada meraka secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan, merekalah
orang-orang yang mengharapkan perniagaan yang tidak pernah usang. [Fathir/35:
29]
Allâh Azza wa Jalla juga
berfirman :
إِنَّ
الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا
وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ
أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ
غَفُورٌ رَحِيمٌ
Sesungguhnya orang-orang yang
beriman, yang berhijrah dan berjihad di jalan Allâh, mereka itulah orang-orang
yang mengharapkan rahmat Allâh, dan Allâh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
[al-Baqarah/2:218]
Raja’ sebagaimana juga al-khauf
adalah ibadah hati yang tidak boleh dipalingkan kepada selain Allâh Azza wa
Jalla . jika ada yang memalingkannya kepada selain Allâh Azza wa Jalla ,
berarti dia telah terjerembab dalam kubangan syirik.
Dan raja’ merupakan sarana
terdekat untuk mendekatkan diri kepada Allâh Azza wa Jalla . Dalam sebuah
hadits qudsi dijelaskan bahwa Allâh Azza wa Jalla berfirman:
أَنَا
عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِـيْ
وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِــيْ
Aku sebagaimana dugaan hamba-Ku
kepada-Ku. Dan Aku bersamanya tatkala dia mengingat-ku
Yang wajib dilakukan oleh seorang
Muslim adalah menggabungkan antar khauf dan raja’. Keduanya harus berimbang.
Itulah kondisi para Nabi dan Rasul serta kaum Muslimin. Allâh Azza wa Jalla
berfirman :
تَتَجَافَىٰ
جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ
رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا
رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
Lambung mereka jauh dari tempat
tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan
harap, serta mereka menafkahkan rezki yang Kami berikan. [as-Sajadah/32:16]
Tatkala seorang Muslim mengetahui
cakupan rahmat Allâh Azza wa Jalla , kedermawanan-Nya, kemudahan-Nya dalam
memberikan ampunan pada dosa-dosa yang besar, keluasan surga-Nya serta besarnya
ganjaran dari amal shalihnya, maka jiwanya akan menjadi lega, tenang serta dia
akan terus menerus optimis dan berambisi meraih apa yang ada disisi Allâh Azza
wa Jalla . Sebaliknya, saat dia mengetahui betapa berat hukuman Allâh,
siksa-Nya yang teramat keras, perhitungan-Nya yang begitu jeli, hari Kiamat dan
neraka yang begitu mengerikan, serta beraneka adzab di akhirat, maka jiwanya
akan tercegah, terkekang, selalu waspada serta takut untuk melakukan
pelanggaran.
Oleh karna itu, dalam hadits dari
Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda :
لَوْ
يَعْلَمُ الْمُؤمِنُ مَا عِنْدَ الله
مِنَ العُقُوبَةِ ، مَا طَمِعَ
بِجَنَّتِهِ أَحَدٌ ، وَلَوْ
يَعْلَمُ الكَافِرُ مَا عِنْدَ الله
مِنَ الرَّحْمَةِ ، مَا قَنَطَ
مِنْ جَنَّتِهِ أحَدٌ
Seandainya seorang Mukmin
mengetahui adzab yang ada di sisi Allâh, niscaya tidak ada seorang pun yang
akan terlalu berambisi untuk meraih surga-Nya. Dan seandainya orang kafir
mengetahui kasih saying Allâh, niscaya tidak ada seorang pun yang akan berputus
asa dari meraih surga-Nya [HR. Muslim]
Dalam kitab Madârijus Sâlikîn,
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Hati (manusia) dalam perjalanannya
menuju Allâh Azza wa Jalla itu ibarat seekor burung, yang mana cinta kepada
Allâh itu sebagai kepala, sedangkan al-khauf (rasa takut) dan raja’ adalah dua
sayapnya. Apabila kepala dan dua sayapnya sehat, maka dia akan terbang bagus.
Namun apabila kepalanya terputus maka dia akan mati dan jika dia kehilangan
kedua sayapnya maka dia akan menjadi mangsa pemburu atau elang.”
Semoga Allâh Azza wa Jalla
menganugerahkan kepada kita dan seluruh kaum Muslimin kedua rasa yang sangat
kita butuhkan dalam mengarungi kehidupan dunia yang penuh dengan tipu daya ini.
Al-Khauf, yaitu rasa takut
terhadap murka dan siksa Allâh Azza wa Jalla . Rasa ini harus diperkuat dalam
diri kita, saat kita dalam kondisi sehat. Terutama pada zaman ini, dimana dunia
telah memperdaya kebanyakan manusia dengan keindahannya yang semu, sehingga
menyebabkan mereka lalai dari dzikrullah yang akhirnya menyebabkan hati mereka
menjadi keras, lebih keras dari batu gunung sekalipun. Na’udzubillah.
Namun raja’ yaitu harapan atau
ambisi untuk meraih pahala yang Allâh Azza wa Jalla janjikan juga jangan sampai
sirna dari hati kita, agar kita tidak berputus asa dari rahmat Allâh Azza wa
Jalla .
Al-Khauf menuntut seorang Muslim
untuk bergegas melaksanakan apa-apa yang menjadi hak-hak Allâh Azza wa Jalla
dan menjauhkannya dari kelalaian. Rasa ini juga akan menghalanginya dari
perbuatan menzhalimi orang lain dan memotivasinya untuk bersikap amanah, jujur,
adil serta tidak menyia-nyiakan hak orang lain.
Rasa takut yang tertanam dalam
hati ini juga akan menyelamatkan dia dari tipu daya dunia, sehingga dia tidak
hanyut terbawa arus syahwat yang diharamkan, karena dia selalu waspada terhadap
dunia.
Ya Allâh! Anugerahkanlah kepada
kami rasa takut yang bisa menghalangi kami dari perbuatan maksiat;
Anugerahkanlah kepada kami ketaatan yang bisa mengantarkan kami kepada
surga-Mu; Dan anugerahkanlah kepada keyakinan yang dengannya kami merasa semua
musibah dunia itu menjadi ringan.
(Diangkat dari Khutbah Jum’at di
Masjidin Nabawi yang disampaikan oleh Syaikh Dr. Ali al-Hudzaifi hafizhahullah
pada tanggal 8 Shafar 1434 dengan judul al-Khaufu minallâh wa Atsaruhu fi
Hayâtil Muslim)
[Disalin dari majalah As-Sunnah
Edisi 11/Tahun XVII/1435H/2014M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta,
Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax
0271-858196]
Referensi:
https://almanhaj.or.id/4195-takut-kepada-allah-subhanahu-wa-taala-dan-pengaruhnya-dalam-kehidupan-seorang-muslim.html
Semoga bermanfaat.
Baca Juga Artikel Terbaru Kami :
Kajian Sunnah Terbaru Kami
Kisah Nabi Ismail as dan Telaga Zam-Zam
Kisah Nabi Luth as.
Tiga Kamus Bahasa Tentang Pekerjaan
Perhiasan dalam Tiga Bahasa
Tiga Bahasa Untuk Warna dan Busana
Tiga Bahasa Untuk Perkakas dan Elektronik
Tiga Bahasa Bab Sekolahan
Hak Istri Dalam Rumah Tangga
Perdebatan Nabi Ibrahim dan Raja Namrud
Mendo'akan Orang Tua
Ciri Suami Pembawa Rejeki
Tiga Bahasa Tentang Organ Tubuh
Perilaku yang Sesuai Surat Yunus
Tiga Bahasa Tentang Hari dan Bulan
Cara Melindungi Akun Whatsapp
Infak dan Sedekah
Kandungan Surat Az zumar dan Surat At taubah
Kandungan Surat An nisa dan Al maidah
Lailatul Qadar
Seputar Syirik
Beriman Kepada Nabi Muhammad
Janganlah Putus Asa
#griyakajiansunnah